Press "Enter" to skip to content

Pintu Surga Kopi di Cahaya Alam

Pintu Surga Kopi di Cahaya Alam
Keluarga Petani Kopi, Jamran, Yantiara, Irpan, dan Atar di Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim (Wanawala/Hafidz Trijatnika)

"Harga kopi robusta dan arabika sama saja. Petik merah atau pelangi (asalan) juga sama. Karena kita jual ke warung-warung (tengkulak) ini mereka yang menetapkan harga," aku Jamran.

  • Petani di Desa Cahaya Alam mulai lebih bersemangat untuk mengolah biji kopi dengan cara yang lebih baik lagi setelah mendapatkan bukti bahwa harganya bisa lebih baik.

  • Pembinaan dan pendampingan terhadap petani kopi harus terus digalakkan dan secara masif karena potensi pasar kopi masih sangat luas.

WANALAWA — Waktu menunjukkan pukul 03.00, angin berembus kencang di pelataran Demonstration Plot Hutan Kita Institute (HaKI), Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, 3 Juli 2020. Situasi malam itu sunyi, namun dorongan dari perut membuat Yantiara (35) tiba-tiba terjaga. Bayinya akan lahir hari itu juga.

Yanti segera membangunkan suaminya, Jamran (30) yang terlelap bersama anak ketiga, Irpan (8), di sampingnya. Jamran paham, istrinya sudah akan melahirkan. Jamran sempat panik karena lokasi demplot jauh dari pemukiman, medan berbukit dengan jalan tanah becek, tidak akan membuat sepeda motornya sampai di puskesmas tepat waktu.

Sekejap, Jamran ingat dengan ilmu dukun beranak dari ibunya. Akhirnya Jamran bersiap, mengambil peralatan yang ada di pondok dan menyiapkan ramuan dari tumbuhan herbal di kebun. Jamran siaga membantu Yanti bersalin. Hingga akhirnya lepas adzan subuh, bayi laki-laki gempal menangis seketika tiba di dunia.

Jamran belum lepas lelahnya saat membantu istrinya melahirkan anak laki-laki bungsunya itu. Sudah sepekan Jamran dan Yanti menanam 2.500 bibit kopi arabika di lahan seluas dua hektar. Pekerjaan fisik yang intens itupun yang mungkin memicu Yanti melahirkan anaknya lebih cepat dua pekan dari perkiraan.

Jamran dan Yanti tidak serta merta memberikan nama kepada anak bungsu mereka tersebut. Pada hari ketiga, Jamran baru bisa terhubung dengan Aidil Fikri, Asisten Teknikal Bisnis Gerai Hutan milik (HaKI), yang sedang berada di Palembang.

Jamran meminta Aidil untuk memberikan nama untuk anak ‘Jemes Bond’ — anekdot warga Semende untuk menyebut orang yang setiap hari beraktivitas di kebun — karena sudah merasa seperti keluarga sendiri.

Hingga akhirnya bayi tersebut diberi nama Atar Rayyan, yang bermakna ‘Pintu Surga di Pelataran’

Memetik Kopi
Yanti memetik buah kopi sambil menggendong anak bungsunya, Atar, di kebun demplot HaKI, Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. (Wanawala/Hafidz Trijatnika)

Atar tumbuh bersama kopi arabika

Kopi arabika yang ditanam di Demplot HaKI tersebut ibarat kakak bagi Atar. Usia tanaman kopi tersebut lebih tua dua pekan darinya. Sejak lahir Atar selalu mengiringi orang tua dan kakak-kakaknya, Irpan (8) dan Ulil (19) beraktivitas di kebun kopi. Saat lelah, Atar nemplok di punggung Yanti yang sibuk memetik buah cherry merah kopi yang sudah matang ke dalam keranjang.

Bila kakaknya, Irpan, sudah pulang sekolah, Atar tidak betah di gendongan kain. Berlarian ke sana kemari Atar dengan Irpan bermain kejar-kejaran di antara tanaman kopi yang sudah setinggi satu setengah meter. Pada Juli 2022, tanaman kopi arabika di demplot HaKI tersebut sudah mulai bisa dipanen.

Jamran bersama keluarganya sudah mengelola demplot sejak 2018. Demplot tersebut dibangun oleh masyarakat yang tergabung dalam perhutanan sosial skema Hutan Desa Cahaya Alam sejak 2017. Jamran yang dulunya merupakan buruh tani, akhirnya mengelola perkebunan yang ditanam di demplot tersebut.

“Sebelumnya saya tidak punya lahan sendiri di sini, hanya jadi buruh tani di lahan orang. Diupah dari hasil panen. Misal nanam padi, saya dapat bagian beras,” ujar Jamran saat berbincang di demplot, akhir Juli 2022 lalu.

Saat pendamping perhutanan sosial dari HaKI datang pada 2016 lalu, dirinya belum paham sepenuhnya terkait pengelolaan lahan. Dirinya pun tidak memiliki lahan yang saat itu masih berada di kawasan hutan.

Namun keaktifannya di Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) menonjol, para pendamping perhutanan sosial dari HaKI ingin Jamran yang mengelola demplot. Akhirnya ditunjuklah Jamran sebagai pengelola lahan demplot agar bisa menjadi sekolah lapang dan percontohan pengelolaan lahan bagi para petani di sekitarnya.

Bersama Aidil Fikri, Jamran yang mulanya buta tentang tanaman kopi, sedikit demi sedikit paham cara merawat tumbuhan sejuta penikmat ini. Atar yang aktif, selalu ingin ikut setiap kali ayahnya sedang melakukan proses pascapanen buah kopi yang telah dipetik. Gelak tawa Atar yang renyah menjadi pelipur lelah orang tuanya saat bekerja di ladang.

Proses Penjemuran Kopi
Jamran menjemur kopi yang baru dipanen di rumah jemur (green house). (Wanawala/Hafidz Trijatnika)

Gigit jari petani kala rogoh kocek dalam untuk secangkir kopi

Kopi menjadi komoditas unggulan di Indonesia, khususnya Sumsel. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Sumsel merupakan daerah produksi kopi terbesar di Indonesia hingga 2021. Tercatat, 201.400 ton biji kopi beras (green bean) diproduksi oleh petani di Sumsel. Dari angka tersebut, 70 persennya atau 140.980 ton merupakan kopi jenis robusta. Sisanya 60.420 ton adalah arabika.

Meski secara persentase produksi arabika di Sumsel masih 30 persen, namun secara jumlah produksi hampir menyamai total produksi kopi robusta-arabika Aceh yang hanya 74.200 ton dan Sumut yang hanya 76.800 ton pada 2021.

Kopi jenis arabika yang dijual kedai kopi dan cafe perkotaan memiliki harga jual relatif lebih mahal. Dengan cara penyajian yang mewah ditambah biaya marketing, tentu harganya berlipat ganda. Begitukah yang dirasakan petani?

“Harga kopi robusta dan arabika sama saja. Petik merah atau pelangi (asalan) juga sama. Karena kita jual ke warung-warung (tengkulak) ini mereka yang menetapkan harga,” aku Jamran.

Saat ini harga biji kopi green bean sedang jaya-jayanya. Kopi dengan proses petik asalan bisa dihargai Rp20-22 ribu per kilogram oleh tengkulak, tertinggi sepanjang masa setelah sempat terpuruk pada medio 2020-2021 akibat pandemi Covid-19; titik nadirnya hingga Rp11 ribu per kilogram. Namun harga tersebut masih jauh dari potensi sebenarnya.

Jamran mengenang saat dirinya pernah diajak ngopi di Palembang bersama temannya. Waktu itu, temannya memesan satu sajian manual brew arabika dan Jamran memesan es kopi susu berbasis espreso.

“Harga secangkirnya sekitar Rp20-30 ribu. Sedangkan harga biji kopi berasnya cuma setengahnya. Kok bisa?” Jamran berpikir keras.

Dari situ dirinya mulai diedukasi oleh Aidil, bahwa menjual kopi dengan harga mahal harus melalui proses yang mumpuni. Tumbuhan kopi dirawat dengan perhatian khusus, bukan sekedar ditanam, ditinggal, tunggu saat berbuah baru panen semuanya.

Jamran, Yanti, dan anak-anaknya menjalani dua tahun yang melelahkan untuk merawat 2.500 batang kopi arabika yang ditanam di demplot. Hingga akhirnya kini sudah bisa mulai menuai hasilnya, bersama Atar yang sudah menginjak usia 2 tahun.

Pemetikan buah kopi di demplot HaKI Cahaya Alam menggunakan metode petik merah, sehingga ritme panennya berbeda dengan kebun masyarakat lain di sekitarnya. Yanti dan Jamran memiliki waktu 15 hari untuk memetik cherry kopi merah yang belum tumbuh merata. Seraya menunggu 15 hari kemudian untuk memanen kembali, mereka sambil melakukan proses pascapanen terhadap kopi yang baru dipetik.

“Paling cepat 15 hari lagi baru bisa dipetik lagi, nunggu buah menjadi merah. Kadang bisa 20 hari kalau buah merah belum banyak. Ini terus dilakukan, tidak ada batas waktu. Jadi kalau orang lain ada panen raya, kita tidak ada. Ini melelahkan,” ungkap Jamran.

Namun lelahnya terbayar dengan hasil penjualan kopi yang bisa tiga kali lipat dari harga beli tengkulak. Memanfaatkan jaringan pemasaran yang sudah disiapkan oleh HaKI, mereka tidak perlu khawatir tidak ada yang menampung hasil panen mereka. Green bean arabika yang baru pertama kali panen di demplot HaKI dihargai Rp80-90 ribu per kilogram.

Melihat harga jual yang tinggi, para petani di Cahaya Alam lainnya pun mulai melirik dan belajar dari demplot HaKI. Petani yang selama ini hanya bisa pasrah jadi korban sistem yang merugikan mereka, mulai berdaya.

Selain menanam kopi arabika, demplot HaKI Cahaya Alam pun membeli cherry merah kopi robusta dari para petani lainnya. Setiap kilogram cherry merah kopi robusta dihargai Rp6 ribu yang dibayarkan kontan. Sistem penjualan tersebut sangat menarik bagi para petani yang biasanya menjual ke tengkulak.

Rata-rata perbandingannya, satu kilogram green bean bisa dihasilkan dari 6-7 kilogram buah cherry kopi. Jadi dibandingkan dengan jual Rp20 ribu per kilogram green bean ke tengkulak, petani bisa mendapat Rp36-42 ribu bila dijual ke demplot HaKI.

“Selain itu, mereka tidak harus susah-susah memprosesnya terlebih dahulu. Namun mereka harus membiasakan untuk memetik buah kopi hanya yang sudah merah saja. Ibaratnya mereka dipaksa dulu nih di awal, agar bisa mendapatkan harga jual lebih baik,” kata Aidil Fikri.

Memetik Kopi
Aidil Fikri sedang memetik kopi arabika di kebun demplot HaKI Cahaya Alam, Kecamatan Semender Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. (Wanawala/Hafidz Trijatnika)

Kopi Sumsel Naik Kelas

Petani di Desa Cahaya Alam mulai lebih bersemangat untuk menanam dan mengolah biji kopi dengan cara yang lebih baik lagi setelah mendapatkan bukti bahwa harganya bisa lebih baik. Keberhasilan tahap awal ini menjadi modal Aidil untuk menerapkan pola yang sama di daerah lain seperti Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Lahat, Musi Rawas, dan Kota Pagaralam.

Pekerjaan Aidil tidak selesai di kebun. Dirinya masih harus memasarkan hasil kopi premium petani ini hingga ke cangkir-cangkir di kedai kopi. Mulanya, Aidil memasarkan ke kedai kopi di Palembang. Respon positif diterima Aidil, karena kopi kelas premium Sumsel lebih murah dibandingkan kopi premium dari daerah lain karena ada ongkos kirim yang terpangkas.

Namun untuk mulai menjual skala besar dan ekspor, Aidil berujar, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Produktivitas lahan kopi di Sumsel, dan secara umum Indonesia masih belum optimal. Lahan perkebunan kopi di Sumsel rata-rata baru bisa menghasilkan 1 ton green bean per tahun. Dibandingkan dengan Vietnam dan Brasil yang bisa menghasilkan 4 ton per hektar per tahun.

“Masalahnya ketika sudah berbicara ekspor, kuantitas yang utama. Importir di Eropa banyak yang ingin kerja sama, mereka minta 50-100 ton per bulan. Tentu itu belum bisa kita penuhi dengan produktivitas yang seperti sekarang,” ungkap Aidil.

Oleh karena itu, pembinaan dan pendampingan terhadap petani kopi harus terus digalakkan dan secara masif karena potensi pasar kopi masih sangat luas. Pengelolaan proses pascapanen yang profesional dan tata niaga yang baik dimulai dari petani untuk komoditas kopi bisa sedikit demi sedikit mendekati potensi yang masih terbuka luas tersebut.

Sistem tengkulak saat ini masih sangat merugikan petani karena mereka tidak memiliki kendali atas produk mereka sendiri. Banyak petani pun yang juga berutang kepada tengkulak untuk kebutuhan hidup sehingga mereka hanya bisa sekedar kebutuhan hidup mereka tanpa bisa mendapatkan hasil yang lebih.

Keluhan-keluhan para petani sudah didengarkan olehnya. Aidil paham, dirinya yang ingin bisa segera membantu para petani agar lebih sejahtera dan mendapatkan pendapatan yang lebih, harus dimulai dari langkah-langkah kecil dan harus berada di tengah-tengah mereka. Hidup sebagai petani.

“Dan yang terpenting adalah pengelolaan kelembagaan di tingkat petani dan membangun kepercayaan dengan petani. Kita datang untuk mereka bisa merasakan manisnya secangkir kopi pahit,” kata Aidil.


Related