Press "Enter" to skip to content

Konflik Rusia-Ukraina, Bukti Nyata Ancaman Perang Modern

Konflik Rusia-Ukraina, Bukti Nyata Ancaman Perang Modern
Sejumlah orang menuntut Presiden Rusia Vladimir Putin menghentikan invasinya di Ukraina. (Foto Ilustrasi Pexels)

Operasi militer Rusia ke wilayah Ukraina membuka mata kita bahwa ancaman perang antar negara masih ada. Konflik Rusia-Ukraina membuka mata kita semua.

  • Sempat ramai beberapa kelompok berteriak bahwa musuh kita saat ini adalah ancaman virus. Bukan masalah ancaman serangan militer saat pembelian beberapa Alutsista baru untuk TNI beberapa waktu kemarin.

  • Namun Konflik Rusia-Ukraina membuktikan tindakan militer masih menjadi instrumen utama dan efektif dalam mencapai tujuan politik luar negeri suatu negara.

WANAWALA — Kekuatan militer bisa menjadi kekuatan deterrent maupun kekuatan pemukul agar national interest sebuah negara tercapai atau tetap terjaga.

Rusia yang memiliki national interest untuk tetap mempertahankan pengaruhnya di wilayah Eropa Timur merasa terusik dengan niatan Ukraina untuk bergabung dengan aliansi pakta pertahanan atlantik utara, NATO. Tidak ingin pengaruhnya hilang di ‘halaman rumahnya’ sendiri, Rusia terus mendestabilisasi situasi di Ukraina.

Perang urat syaraf dan proxy berakhir dengan operasi militer skala penuh Rusia atas Ukraina di bulan Februari ini.

Sejauh ini, walau mendapat resistensi yang cukup kuat dari pasukan Ukraina, pasukan Rusia berhasil menduduki beberapa titik penting di perbatasan dan juga dekat dengan ibu kota Ukraina Kiev. Secara hitungan matematis, pihak Rusia harus segera menyelesaikan offensive mereka sebelum ‘ongkos perang’ yang dikeluarkan terlalu mahal.

Konflik Rusia-Ukraina cepat-lambat akan ada titik tengah, entah menguntungkan pihak mana.

Apalagi saat ini Rusia sudah dihadapkan dengan berbagai sanksi ekonomi untuk negaranya.  Ukraina juga di tengah tekanan harus memberikan perlawanan sengit dari gerak maju pasukan Rusia. Ukraina harus memberikan kerusakan yang signifikan terhadap pasukan lawan agar memiliki posisi tawar dalam perundingan damai atau gencatan senjata yang harus segera dilakukan.

Pasukan Anti Tank Ukraina dan Kalibr Cruise Missile Rusia adu hebat, siapa lebih unggul baca di sini

Untuk saat ini, Ukraina sendiri harus berjuang sendirian menghadapi pihak Rusia sebagai agresor setelah NATO mengkonfirmasi bahwa mereka tidak akan mengirimkan pasukan reguler ke wilayah tersebut. Ya, statement ini membuat Ukraina kecewa setelah sebelumnya mereka berharap banyak terhadap aliansi pertahanan tersebut. Konflik Rusia-Ukraina terus terjadi hampir sebulan.

Dari contoh Perang Rusia-Ukraina ini kita bisa melihat bahwa ancaman perang ini nyata. Tahun lalu, Azerbaijan pun berperang melawan Armenia di kawasan Nagorno-Karabakh. Indonesia pun bukanlah sebuah wilayah yang aman dari ancaman konflik bersenjata.

Indonesia berada tepat berada di titik strategis jika konflik Laut China Selatan terjadi. Konflik yang terjadi di depan ‘halaman rumah’ sudah barang pasti bakal menyeret Indonesia ke dalam konflik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bagi Indonesia, pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) baru sangatlah urgent. Kenapa? Selain dalam segi kuantitas masih kurang untuk mencapai angka kekuatan minimum, mayoritas alutsista TNI sudah banyak yang berumur lebih dari 20 tahun.

Selain berpengaruh kepada kondisi unit, umur juga membuat teknologi yang ada di dalam sebuah alutsista bisa tertinggal. Apalagi jika alutsista tersebut tidak mendapatkan program modernisasi secara berkala.

Kini, memasuki tahun 2022, perkembangan teknologi peperangan termasuk alutsista berkembang pesat. Alutsista yang lahir di era pasca perang dingin mulai terancam kadaluarsa dengan hadirnya senjata-senjata generasi terbaru yang memiliki kemampuan lebih canggih ke pasaran.

Negara jiran Indonesia sendiri, seperti Singapura dan Australia, sudah dan akan mengoperasikan pesawat tempur canggih seperti F-35 Lightning II. Karena itu, Indonesia harus juga meningkatkan kemampuan alutsistanya untuk menciptakan efek gentar dari militer Indonesia. Supaya tetap bisa menjaga kedaulatan wilayah Indonesia secara maksimal. Indonesia harus belajar dari konflik Rusia-Ukraina ini.

Ketika Indonesia belum bisa memperoleh akses untuk mendapatkan alutsista yang sama, minimal sudah mulai berproses untuk mengejar ketertinggalan teknologi persenjataan militer Indonesia tersebut.

Pengadaan alutsista sendiri tidak seperti memesan mobil baru, ketika kita pesan sekarang, batch pertama pemesanan kemungkinan baru dikirim setelah 3-5 tahun mendatang. Karena itu, kebijakan pembelian alutsista yang dilakukan saat ini saya anggap sudah sangat tepat untuk mempersiapkan kesiapan tempur sistem pertahanan Indonesia di masa depan.

Ingat pepatah Civis Pacem Para Bellum, siapa yang mendambakan kedamaian, dirinya harus siap berperang.

Tentang Penulis

Prasta Kusuma merupakan lulusan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Padjajaran. Pria yang akrab disapa ‘Obet’ oleh kawan dekat ini memiliki ketertarikan tentang geopolitik serta pertahanan negara. Saat ini Prasta memiliki perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang jasa dan Event Organizer di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Prasta membagikan pandangannya terhadap kabar militer dan pertahanan di akun Instagram @prastaobet

Baca tulisan Prasta lainnya di sini –> Prasta Kusuma

Sumber Foto: Katie Godowski from Pexels


Related