Press "Enter" to skip to content

Simalakama Termanis Antara Pemerintah, Masyarakat Awam dan Penikmat Senja

Simalakama Termanis Antara Pemerintah, Masyarakat Awam dan Penikmat Senja
Ilustrasi merokok (Pexels/Cottonbro)

Tindakan pemerintah untuk terus menaikkan cukai rokok mungkin saja terjadi. Tapi, perlu pertimbangan yang matang. Bahkan jika ada pilihan untuk dilakukan penurunan, mungkin menjadi keberkahan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. 

  • Berdasarkan catatan yang dimiliki World Health Organization (WHO), Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia tiap tahunnya.

  • Khusus di Indonesia, setiap tahun, sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau.

Tangan Ivan bergerak cepat merogoh kantong jins lusuhnya. Lelaki ini tahu jika di dalamnya masih tersimpan selembar uang dengan nominal lima puluh ribuan. Tak lama, bergegas ia menuju warung, tak jauh dari kontrakannya. Tujuannya hanya satu, membeli rokok kesayangannya. 

Setibanya di warung, Irvan yang berstatus sebagai seorang mahasiswa terkejut lantaran harga rokoknya berbeda dari biasanya. Tidak banyak, hanya seribu rupiah saja. Alasan si pemilik warung, harga itu sudah ditentukan oleh agen berdasarkan cukai rokok. Dengan perasaan dongkol, dirinya pun tetap membayar rokok tersebut

**

Ivan bisa jadi salah satu dari jutaan bahkan mungkin ratusan juta perokok aktif yang cenderung mampu mengeluarkan imajinasinya jika ia mengembuskan asap dan menghisap nikotin. 

Sugesti memang, tapi keberadaan rokok justru memegang peranan penting, terutama bagi profesi tertentu. 

Sedikit kilas balik, di era zaman Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Belanda Hindia Timur sejak awal abad ke-17 hingga revolusi industri 5.0, bisnis rokok memang cukup menggiurkan. Mulai dari rokok tradisional yang diracik dengan rempah rempah, hingga rokok yang saat ini menggunakan teknologi mutakhir, perokok kian hari kian bertambah. 

Berdasarkan catatan yang dimiliki World Health Organization (WHO), Tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia tiap tahunnya. Lebih dari 7 juta kematian ini diakibatkan oleh penggunaan langsung tembakau dan sekitar 1,2 juta diakibatkan paparan asap rokok orang lain. Khusus di Indonesia, setiap tahun, sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau. (WHO Sout East Asia Indonesia) (30/05/2020)

Ironisnya, meski telah banyak korban yang berjatuhan akibat “aktivitas isapan maut” ini pun hanya dianggap angin lalu bagi para ahli hisap. Termasuk penulis yang membuat esai ini. 

Belakangan, pemerintah tengah mengkaji untuk menaikkan kembali cukai rokok. Tujuannya tentu saja mengurangi konsumsi rokok dan jumlah perokok dalam negeri. Kebijakan ini sengaja dilakukan untuk mengejar target pembangunan dari sisi fiskal, termasuk daya saing manusia di bidang kesehatan. 

Meski menimbulkan pro-kontra, namun sebuah tugas besar bagi pemerintah sudah menunggu. 

Ketua Pengurus Harian Yayasan Konsumen Lembaga Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mendukung penuh wacana tersebut. Mengingat prevalensi merokok anak di Indonesia sudah sangat tinggi, mencapai 8,5 persen. Padahal target dari RPJMN 2020 hanya 5,8 persen. Artinya target menurunkan prevalensi merokok pada anak menjadi sangat penting, dan kenaikan cukai rokok menjadi instrumen efektif untuk itu. 

“Sama sekali tidak menghambat pertumbuhan ekonomi. Justru masyarakat memiliki prioritas belanja. Terutama di masa pandemi COVID-19 ini,” katanya seperti dikutib laman portal daring berita merdeka.com (23/10/2020). 

Ibarat buah simalakama. Peribahasa lama yang diartikan kurang lebih bagaikan seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih (Kamus Besar Bahasa Indonesia). 

Terlebih, keduanya sama sama memiliki peran yang cukup besar bagi masing masing pihak. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat penerimaan cukai dari Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) pada 2019 mencapai Rp 247,1 miliar. Jumlah ini setara 78,7 persen dari potensi penerimaan cukai HPTL saat itu sebesar Rp 542,5 miliar. 

“Ada 238 pabrik yang aktif melakukan pemesanan pita cukai,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Edy Sutopo seperti dikutib kumparan.com. (28/09/2020)

Angka tersebut cukup fantastis jika kita melihat dari sisi seorang perokok. Secara tidak langsung, perokok merupakan “donatur” utama dari nominal yang tidak setiap orang pernah memegangnya secara langsung. 

Sebenarnya pemerintah tidak perlu khawatir terjadi pengurangan pendapatan cukai rokok tersebut, dan buruh pabrik rokok yang jumlahnya jutaan tersebut. Dikutib dari pasardana.id, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,98 juta orang dan didominasi perempuan. 

Dari jumlah tersebut, pemerintah memberikan kesempatan kerja sebagai bentuk solusi bagi mereka. Para buruh pabrik rokok tersebut diberikan lahan produksi atau bantuan kecil menengah bagi mereka memulai sebuah usaha baru. Tentunya dapat mendongkrak pendapatan negara dari segi industry kecil menengah. 

Tindakan pemerintah untuk terus menaikkan cukai rokok mungkin saja terjadi. Tapi, perlu pertimbangan yang matang. Bahkan jika ada pilihan untuk dilakukan penurunan, mungkin menjadi keberkahan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. 

Begitu pula dengan peningkatan perokok aktif di Indonesia bisa ditekan dengan sosialisasi secara terstruktur, sistematis dan masif. Salah satunya dengan memperbanyak peringatan bahaya merokok. Wadahnya tentu saja kekuatan media sosial. 

Media mainstream seperti televisi dan radio lambat laun berkurang pemirsanya. Serbuan produksi gawai membuat masyarakat kian mudah mendapatkan informasi dalam genggaman mereka, dimanapun dan kapanpun. Berikan informasi terbaik kepada masyarakat terkait peringatan bahaya merokok seperti yang tertulis di setiap kotak rokok yang tertera “Peringatan Pemerintah : Merokok Dapat Merugikan Kesehatan (1999); Peringatan Pemerintah : Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin (1999-2001); Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin (2002-2013); dan Peringatan : Merokok Membunuhmu (Desember 2013 – sekarang)

Para perokok aktif, terutama “Pecinta Senja” yang saat ini menjamur di kalangan anak muda yang kerap menghirup kopi ditemani sebatang rokok dapat terus berlangsung. Toh mereka tidak ambil pusing dengan kesehatannya, pun kisaran cukai rokok. 

Dalam hal ini, pemerintah, masyarakat awam maupun perokok aktif harus saling bersinergi satu sama lain. Prioritaskan mana yang harus menjadi kebutuhan utama. Perkara rokok memang bukan hal mudah untuk diselesaikan. Saling berkaitan satu sama lainnya, hingga menghasilkan pendapatan yang cukup signifikan bagi nusantara ini. Ya, setidaknya, bagi Ivan dan kalangan pecinta senja, rokok merupakan pasangan serasi bagi kopi. (*)

 

ANDHIKO TUNGGA ALAM

Pimred Wanawala


Related