Press "Enter" to skip to content

Senandung Perpisahan Perang Vietnam di Saigon

Senandung Perpisahan Perang Vietnam di Saigon
Warga Saigon berbondong-bondong pergi dari Saigon saat NCA menggeruduk. (Foto Ilustrasi)

Senandung sendu Irving Berlin mengudara pada 29 April 1975 di Saigon, ibukota Vietnam Selatan. White Christmas yang sedianya merupakan musik penghangat di cuaca dingin yang mengiringi Natal, jadi penanda pasukan Vietnam Selatan bersama sekutunya bubar jalan.

  • Musik dan peperangan memang suatu hal yang kontras, namun kadang berhubungan. Musik terkadang dijadikan sinyal, penanda untuk memulai operasi militer dilaksanakan.

  • White Christmas yang dinyanyikan Irving Berlin, mengudara di setiap radio dan pengeras suara yang ada di Saigon pada hari itu. Para prajurit sadar dan mulai bergegas.

Oleh: Prasta Kusuma

White Christmas menjadi penanda bahwa kota itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi dari serangan pasukan North Vietnamese Army (NVA). Evakuasi harus segera dilakukan.

Dua hari sebelumnya, pasukan Vietnam Utara menyerang pangkalan udara Tan Son Nhut. Pangkalan udara tersebut merupakan salah satu jalur vital evakuasi pasukan dan warga asing dari wilayah Vietnam Selatan.

Mendapati serangan NVA semakin ganas dan menghancurkan beberapa aset udara pasukan koalisi di tarmac. Juga semakin mustahil untuk menerbangkan pesawat fixed wing, Major General Homer Smith memutuskan untuk melanjutkan evakuasi menggunakan helikopter dan menutup fixed wing air operation karena situasi semakin berbahaya. 

Setelah sinyal dari lagu White Christmas diputar, Defense Attaché Office di Saigon memulai evakuasi mereka menggunakan helikopter. Heli CH-43 dan CH-46 Amerika sudah bersiaga di titik-titik evakuasi untuk membawa personel militer dan warga sipil yang ingin dievakuasi menuju konvoi Armada ke-7 yang bersiaga di Laut China Selatan.

Evakuasi berakhir pada 30 April pukul 07.53, di mana helikopter terakhir take off dari atas Kedutaan Besar Amerika Serikat dan mendarat di USS Okinawa satu jam kemudian. Pagi itu juga tank-tank T-54 Vietnam Utara menerobos pertahanan terakhir pasukan Vietnam selatan dan menjelang tengah hari mereka menerobos pagar kantor Presiden Vietnam Selatan di Saigon.

Dikuasainya kantor kepresidenan Vietnam Selatan oleh pasukan Utara menandakan bahwa perang Vietnam berakhir. Mimpi Ho Chi Minh untuk mempersatukan kembali Vietnam terwujud walau beliau sudah tidak bisa lagi menyaksikan reunifikasi negaranya secara langsung. 

Dampak perang nuklir seandainya jatuh di Ukraina, baca di sini

Vietnam telah berperang untuk kemerdekaannya sejak tahun 1945. Ketika itu, Prancis yang kembali ke Vietnam setelah kekalahan Jepang harus menghadapi rakyat Vietnam yang menginginkan kemerdekaan. Serupa dengan kondisi di Indonesia, pada 2 September 1945, pemimpin Vietnam Hồ Chí Minh mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam.

Setelah serangkaian usaha diplomasi, Prancis yang ingin kembali menanamkan pengaruhnya di Vietnam mendaratkan pasukan militernya di Hai Phong pada tahun 1946. Sontak pendaratan ini mendapat perlawanan dari rakyat Vietnam yang dimotori oleh gerakan Viet Minh.

Sejak pertempuran di Hai Phong, perang Indochina pertama antara Vietnam dan Prancis terjadi. Kemenangan pasukan Komunis di dataran China memberikan angin segar bagi perjuangan Viet Minh. Setelah China daratan dikuasai oleh Mao, pasukan Viet Minh mendapatkan suplai senjata dan pelatihan militer dari rezim komunis di Tiongkok.

Pertempuran demi pertempuran terjadi, dengan puncak pertempuran antara Prancis dan Viet Minh terjadi di lembah Dien Bien Phu, lembah yang menjadi neraka bagi pasukan Prancis yang porak poranda oleh pasukan Vietnam.

Setelah Dien Bien Phu, kekuatan Prancis makin melemah dan menggelar perundingan damai dengan hasil membagi Vietnam menjadi dua wilayah, Vietnam Selatan dan Vietnam Utara. Walau pada awalnya setuju, Ho Chi Minh tetap memiliki impian untuk mempersatukan kembali Vietnam.

Harapan itu muncul kembali setelah ternyata pemerintahan di Vietnam Selatan tidak berjalan dan banyak terjadi demonstrasi anti pemerintahan. Hal ini dimanfaatkan pihak utara untuk membentuk gerakan Viet Cong yaitu pasukan non reguler pro utara yang bergerak di kawasan Vietnam Selatan. Apalagi setelah pasukan Viet Minh dipaksa hijrah ke utara mereka tetap meninggalkan sejumlah elemen di selatan untuk menjalankan misi menggerakan perlawanan.

Melihat semakin hari posisi Viet Cong semakin kuat di Selatan, dunia yang kala itu sedang dilanda perang dingin pun bereaksi. Amerika Serikat yang tidak ingin kehilangan daerah pro barat di Indo-China segera memberikan bantuan militer kepada pasukan Vietnam Selatan. 

Namun, moral yang buruk menjadikan pasukan Vietnam Selatan ini tidak banyak memberikan hasil. Sehingga setelah insiden Teluk Tonkin pada tahun 1965, Amerika memutuskan untuk mengirimkan tentara reguler ke Vietnam Selatan dan pecahlah perang antara Vietnam Utara yang dibantu Viet Cong menghadapi Koalisi Amerika.

Setelah hampir 10 tahun berperang di Vietnam dengan korban yang tinggi, perang Vietnam semakin tidak populer di negara-negara Barat. Karena itu sejak awal tahun 1970an kekuatan Koalisi mulai berkurang dan mulai mentrasisikan kekuatannya kepada pasukan Vietnam Selatan.

Tragedi pesawat perang AS saat Perang Teluk baca di sini

Namun, pasukan Vietnam Selatan bukanlah tandingan pasukan Utara dimana mereka terdiri dari pada veteran perang yang sudah bertempur sejak tahun 1945. Hasilnya ketika kekuatan koalisi benar-benar ditarik mundur, NVA hampir tanpa henti bisa menusuk ke daerah-daerah Vietnam Selatan.

Pada April 1975, akhirnya pasukan Utara berhasil mencapai ibukota Vietnam Selatan Saigon. Keadaan yang sangat genting karena Vietnam Selatan sudah hampir dipastikan tidak dapat dipertahankan lagi. Kekacauan terjadi di setiap sudut kota, warga yang tidak ingin hidup di bawah pemerintahan komunis sibuk menyelamatkan diri.

Puncaknya adalah 30 April 1975, setelah helikopter terakhir Amerika meninggalkan Saigon, pasukan Utara melancarkan serangan pamungkas mereka dan berhasil menguasai daerah pemerintahan pada siang harinya. Ketika bendera Viet Cong berkibar di atas istana Presiden Vietnam Selatan, sudah bisa ditebak, Perang Vietnam sudah berakhir dengan hasil Unifikasi Vietnam dibawah pengaruh Komunis.

 

Baca tulisan Prasta Kusuma lainnya di sini –> Prasta Kusuma

 

Tentang Penulis

Prasta Kusuma merupakan lulusan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Padjajaran. Pria yang akrab disapa ‘Obet’ oleh kawan dekat ini memiliki ketertarikan tentang geopolitik serta pertahanan negara. Saat ini Prasta memiliki perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang jasa dan Event Organizer di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Prasta membagikan pandangannya terhadap kabar militer dan pertahanan di akun Instagram @prastaobet

Sumber Foto: nytimes


Related